
MUNA - Suasana pembukaan Festival Liangkabori ke-4 berlangsung semarak dengan penampilan dua tarian tradisional khas Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, yakni Tari Linda dan Tari Kadandio. Pertunjukan budaya tersebut turut disaksikan langsung oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Prof Dr H Fadli Zon di Desa Liangkabori, Kecamatan Lohia.
Dentuman alat musik tradisional serta gerakan para penari menjadi daya tarik utama dalam pembukaan festival yang digelar di kawasan situs prasejarah Liangkabori. Kehadiran Menteri Kebudayaan menambah makna penting acara tersebut sebagai upaya memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas.
Tari Linda menjadi sajian pembuka dalam kegiatan tersebut. Bagi masyarakat Muna, tarian ini memiliki nilai kehormatan karena menjadi simbol penyambutan tamu sekaligus bentuk penghormatan kepada para undangan yang hadir.
Gerakan anggun para penari Linda menggambarkan keramahan dan keterbukaan masyarakat Muna dalam menerima tamu. Melalui tarian tersebut, nilai-nilai budaya leluhur terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Setelah Tari Linda, penonton disuguhkan penampilan Tari Kadandio yang memiliki kisah dan filosofi tersendiri. Tarian ini berkaitan dengan cerita rakyat mengenai sosok bidadari yang kehilangan kesempatan kembali ke kahyangan setelah selendangnya hilang. Selain itu, Kadandio juga menggambarkan kesedihan masyarakat Muna atas peristiwa sejarah yang berkaitan dengan Raja Muna, La Ode Ngkadiri.
Di balik penampilan kedua tarian tersebut terdapat peran Siti Fatimah SHum, seorang penggiat seni asal Desa Liangkabori yang selama beberapa tahun terakhir aktif membina generasi muda untuk mempelajari seni tradisional Muna.
Fatimah mengatakan dirinya mulai mengenal Tari Kadandio sejak masa sekolah menengah atas. Sejak 2024, ia dipercaya pemerintah desa untuk melatih anak-anak muda agar kesenian tersebut tetap terjaga.
"Saya berharap Kadandio tidak hanya tampil dalam acara tertentu, tetapi bisa menjadi kegiatan rutin bagi generasi muda Muna agar nilai budayanya terus hidup," ujarnya.
Ia juga berharap adanya dukungan berupa pembangunan sanggar seni agar proses pembinaan Tari Linda dan Kadandio dapat berjalan secara berkelanjutan serta mampu dikenal lebih luas hingga tingkat nasional dan internasional.
Festival Liangkabori sendiri digelar di kawasan yang memiliki nilai sejarah tinggi. Situs tersebut dikenal dengan keberadaan gua prasejarah yang menyimpan lukisan cadas berusia puluhan ribu tahun dan menjadi salah satu peninggalan penting peradaban masa lampau di Muna.
Mengusung tema pelestarian budaya leluhur, festival ini tidak hanya menampilkan pertunjukan seni, tetapi juga menghadirkan berbagai kegiatan seperti pameran kerajinan lokal, musik tradisional, wisata sejarah, hingga perlombaan layang-layang tradisional Kaghati Kolope.
Kehadiran Menteri Kebudayaan dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap potensi budaya Liangkabori sebagai salah satu destinasi budaya unggulan di kawasan Indonesia Timur.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |