
ABUJA - Kasus demam Lassa di Nigeria menunjukkan peningkatan sepanjang awal 2026. Data Pusat Pengendalian Penyakit Nigeria (NCDC) mencatat sebanyak 922 kasus terkonfirmasi sejak Januari hingga akhir Juni 2026, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain jumlah kasus yang bertambah, angka kematian akibat penyakit tersebut juga mengalami kenaikan. Sebanyak 221 pasien meninggal dunia dengan tingkat kematian kasus (case fatality rate/CFR) mencapai 24 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan CFR pada periode yang sama tahun 2025 yang berada di angka 18,7 persen.
Hingga pertengahan tahun ini, kasus demam Lassa telah ditemukan di 23 negara bagian Nigeria yang tersebar di 111 wilayah pemerintahan lokal.
Sebagian besar kasus tercatat berasal dari lima wilayah utama, yakni Ondo, Bauchi, Taraba, Edo, dan Benue. Kelima wilayah tersebut menyumbang sekitar 85 persen dari total kasus terkonfirmasi, dengan kontribusi terbesar berasal dari Ondo dan Bauchi.
Selain masyarakat umum, tenaga kesehatan juga turut terdampak. Hingga saat ini, sebanyak 50 kasus demam Lassa dilaporkan terjadi pada pekerja layanan kesehatan di Nigeria.
Demam Lassa merupakan penyakit akibat infeksi virus Lassa yang termasuk dalam kelompok demam berdarah virus. Penyakit ini bersifat zoonosis, yaitu dapat menular dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus multimamat (Mastomys natalensis) yang banyak ditemukan di wilayah Afrika tropis.
Penularan dapat terjadi ketika seseorang bersentuhan langsung dengan urine, kotoran, air liur, atau darah tikus yang terinfeksi. Virus juga dapat menyebar melalui makanan, air, maupun benda rumah tangga yang telah terkontaminasi.
Selain itu, penularan antarmanusia dapat terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh penderita, seperti darah, urine, muntahan, atau cairan tubuh lainnya, terutama jika tidak menerapkan langkah pencegahan infeksi yang baik.
Gejala awal demam Lassa sering menyerupai penyakit umum seperti malaria, di antaranya demam, sakit kepala, lemas, batuk, mual, muntah, diare, nyeri otot, nyeri dada, dan sakit tenggorokan. Pada kondisi berat, pasien dapat mengalami perdarahan dari mata, hidung, mulut, maupun bagian tubuh lainnya.
Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara 3 hingga 21 hari setelah seseorang terinfeksi. Diagnosis dan pemberian pengobatan sejak dini sangat penting karena dapat meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terkena demam Lassa antara lain masyarakat yang tinggal di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, orang yang mengonsumsi makanan yang berpotensi terkontaminasi, serta mereka yang menangani atau mengolah tikus untuk konsumsi.
Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui menjaga kebersihan lingkungan, menyimpan makanan dengan aman, menghindari kontak dengan hewan pengerat, serta menerapkan kebiasaan mencuci tangan.
Penyakit demam Lassa pertama kali ditemukan pada 1969 di sebuah wilayah bernama Lassa, Negara Bagian Borno, Nigeria. Sejak saat itu, penyakit ini menjadi salah satu ancaman kesehatan masyarakat di kawasan Afrika Barat.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |